Site icon NGULIK ENAK

TLC dalam Traceability: Mengapa Kode Tetap Sama


Traceability Lot Code atau TLC tidak dibuat ulang setiap kali produk berpindah dari satu pelaku rantai pasok ke pelaku lainnya. Dalam struktur traceability, kode ini justru berfungsi sebagai identitas lot yang dibawa sepanjang perjalanan produk sampai terjadi peristiwa yang memang memerlukan kode baru.

Karena itu, mengganti TLC pada setiap tahap bukanlah cara kerja traceability yang dijelaskan dalam L-02. Shipping dan ordinary receiving pada dasarnya meneruskan TLC yang sudah ada. Kode baru muncul ketika terjadi kondisi tertentu, terutama saat transformation.

TLC mengikuti lot, bukan setiap perpindahan

TLC merupakan identifier untuk sebuah traceability lot dalam catatan perusahaan yang memberikan kode tersebut. Artinya, keberadaan TLC berkaitan dengan identitas lot, bukan semata-mata dengan lokasi tempat produk berada.

Misalnya, sebuah komoditas telah melalui initial packing dan mendapatkan TLC. Ketika lot tersebut dikirim kepada perusahaan berikutnya, produk memang berpindah lokasi dan kepemilikan. Namun, perpindahan itu tidak otomatis membuat lot tersebut menjadi lot yang berbeda.

Karena itu, TLC yang sudah ada tetap dibawa bersama catatan traceability-nya.

Dalam alur sederhana:

Initial packing → TLC dibuat → Shipping → Receiving → Shipping → Receiving

TLC yang dibuat pada initial packing tetap menjadi identifier lot selama tidak terjadi peristiwa yang menyebabkan kode tersebut diganti.

Dengan demikian, perpindahan fisik dan perubahan identitas lot adalah dua hal yang berbeda.

Shipping hanya meneruskan identitas lot

Shipping merupakan salah satu critical tracking event dalam struktur FSMA 204. Namun, shipping bukan titik untuk membuat TLC baru hanya karena produk dikirim kepada pihak lain.

Pada tahap ini, informasi yang berkaitan dengan pengiriman dicatat sebagai KDE untuk event tersebut. TLC yang sudah dimiliki produk menjadi bagian dari informasi yang mengikuti pengiriman.

Hal ini penting karena satu lot dapat dikirim beberapa kali sebelum mengalami transformation.

Sebagai contoh, sebuah lot hasil initial packing dikirim dari packer kepada distributor. Distributor kemudian mengirimkannya kepada pusat distribusi lain. Pusat distribusi tersebut dapat kembali mengirimkannya kepada penerima berikutnya.

Jika setiap perpindahan menghasilkan TLC baru, hubungan antara catatan-catatan tersebut akan menjadi jauh lebih rumit. Sebaliknya, ketika TLC tetap dibawa, catatan shipping pada setiap tahap dapat terus merujuk pada identifier lot yang sama.

Jadi, yang berubah pada shipping adalah event dan catatan KDE-nya, bukan otomatis identitas lotnya.

Receiving juga tidak otomatis membuat TLC baru

Prinsip yang sama berlaku pada ordinary receiving.

Ketika suatu perusahaan menerima lot yang sudah memiliki TLC, perusahaan tersebut pada umumnya mencatat event receiving dengan merujuk pada TLC yang telah ada. Produk berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, tetapi identitas lotnya tetap.

Dengan demikian, hubungan sederhananya dapat dibaca seperti ini:

Shipper → TLC yang sama → Receiver

Kemudian:

Receiver → TLC yang sama → Shipper atau receiver berikutnya

Yang berubah adalah lokasi, tanggal, jumlah, pihak pengirim atau penerima, serta data lain yang relevan dengan event. TLC tetap menjadi penghubung identitas lot di antara catatan-catatan tersebut.

Namun, ada satu pengecualian penting. Ketika perusahaan menerima Food Traceability List (FTL) food dari pihak yang tidak tercakup oleh Subpart S dan belum ada TLC yang diberikan, penerima yang tercakup dapat diwajibkan memberikan TLC. Ketentuan ini memiliki pengecualian untuk retail food establishment dan restaurant. Dalam kondisi tersebut, lokasi receiving tersebut menjadi TLC source.

Jadi, mengatakan bahwa “receiving tidak pernah membuat TLC” juga tidak tepat. Yang lebih akurat adalah: ordinary receiving meneruskan TLC yang sudah ada, kecuali berlaku kondisi khusus yang memang mengharuskan assignment.

Kapan TLC akhirnya berubah?

Perubahan TLC berkaitan dengan perubahan yang lebih mendasar daripada sekadar perpindahan produk.

Salah satu titik utamanya adalah transformation.

Transformation mencakup aktivitas seperti manufacturing, processing, commingling, repacking, atau relabelling dalam konteks yang dijelaskan pada struktur L-02. Pada peristiwa tersebut, produk atau komposisinya mengalami perubahan sehingga hubungan antara lot input dan lot output harus dicatat.

Misalnya, sebuah lot dengan TLC tertentu digunakan sebagai input untuk menghasilkan produk baru. Pada titik transformation tersebut, TLC input tidak sekadar diteruskan sebagai identitas output. Sebuah TLC baru diberikan kepada output, sementara hubungan antara TLC lama dan TLC baru dicatat.

Gambaran sederhananya:

TLC A → Shipping → Receiving → Transformation → TLC B

A menunjukkan lot sebelum transformation. B menunjukkan lot setelah transformation.

Karena itu, transformation berbeda secara fundamental dari shipping dan ordinary receiving. Shipping dan receiving memindahkan atau menerima lot yang sudah ada. Transformation menghasilkan kondisi yang memerlukan hubungan input-output baru.

Mengapa satu TLC perlu dipertahankan?

Tujuannya adalah menjaga kesinambungan penelusuran.

Bayangkan sebuah lot memiliki TLC A ketika dikirim dari perusahaan pertama. Jika penerima menggantinya menjadi TLC B hanya karena produk tiba di gudangnya, kemudian perusahaan berikutnya menggantinya lagi menjadi TLC C, maka setiap perpindahan akan memutus identitas langsung lot tersebut.

Sistem masih mungkin membuat hubungan antara A, B, dan C melalui catatan tambahan. Namun, struktur tersebut tidak lagi menunjukkan fungsi TLC sebagaimana dijelaskan dalam L-02: sebuah identifier lot yang dibawa sepanjang rangkaian shipping dan receiving sampai terjadi peristiwa yang memang menghasilkan lot baru.

Karena itu, mempertahankan TLC bukan berarti tidak ada data baru. Justru sebaliknya, data baru terus dicatat pada setiap CTE.

TLC tetap, sedangkan event dan KDE terus bertambah.

Inilah perbedaan penting antara identitas lot dan catatan perjalanan lot.

TLC sebagai lifeline dalam traceability

Jika rantai pasok digambarkan sebagai rangkaian titik, TLC dapat dipahami sebagai semacam lifeline yang menghubungkan titik-titik tersebut.

Initial packing
↓
TLC A dibuat
↓
Shipping — TLC A
↓
Receiving — TLC A
↓
Shipping — TLC A
↓
Receiving — TLC A
↓
Transformation
↓
TLC B dibuat

Dengan pola tersebut, kita dapat melihat bahwa tidak semua node menciptakan identifier baru.

Sebagian node hanya mencatat apa yang terjadi terhadap lot yang sudah ada. Pada saat yang lain, transformation menghubungkan lot sebelumnya dengan lot baru.

L-02 bahkan menegaskan bahwa alur identifier tersebut harus dibaca sebagai TLC yang dibuat pada titik assignment tertentu, kemudian tetap bertahan melalui pasangan ship/receive sampai transformation menggantikannya.

Jangan membuat TLC baru hanya karena produk berpindah

Dalam produksi aset atau diagram traceability, kesalahan yang perlu dihindari adalah menggambarkan setiap lokasi sebagai pembuat TLC baru.

Sebuah diagram seperti:

Farm → TLC 001 → Packer → TLC 002 → Distributor → TLC 003 → Retailer

dapat memberikan kesan bahwa setiap perpindahan otomatis menghasilkan lot baru.

Padahal, struktur yang dijelaskan L-02 tidak bekerja seperti itu.

Untuk alur normal, gambaran yang lebih tepat adalah:

Initial packing → TLC 001 → Shipping → Receiving → Shipping → Receiving

TLC tetap 001 selama tidak ada transformation atau kondisi khusus pada receiving yang memerlukan assignment.

Bahkan, sebelum initial packing, TLC belum ada. Harvesting dan cooling dapat menghasilkan catatan traceability, tetapi belum berarti sebuah TLC sudah diberikan.

Dengan demikian, sebuah rantai traceability tidak seharusnya digambarkan sebagai rangkaian kode baru pada setiap titik. Yang lebih tepat adalah menggambarkan satu kode yang mengikuti lot, kemudian menunjukkan dengan jelas titik ketika kode tersebut dibuat atau diganti.

Kesimpulan

TLC tidak berubah di setiap tahap karena TLC mengidentifikasi lot, bukan setiap perpindahan produk.

Shipping dan ordinary receiving mencatat perjalanan lot dan data yang menyertainya, tetapi pada umumnya membawa TLC yang sudah ada. Dengan demikian, satu TLC dapat menjadi penghubung antara banyak catatan event sepanjang rantai pasok.

Kode baru baru muncul ketika aturan memang menetapkan assignment, terutama pada initial packing, first land-based receiving untuk food dari fishing vessel, transformation, atau kondisi khusus receiving dari pihak yang tidak tercakup oleh Subpart S.

Karena itu, memahami kapan TLC tetap dan kapan TLC berubah merupakan dasar penting untuk membaca struktur traceability. Identitas lot tidak perlu diciptakan ulang hanya karena produk berpindah tangan. Yang harus terus dicatat adalah perjalanan lot tersebut.

Exit mobile version