Draft dari surat ini ditulis dengan rokok di tangan kiri dan ballpoint di tangan kanan. Cuaca di luar berubah-ubah, sangat cocok dengan saya: selaras dengan pikiran dan perasaan yang selalu bergerak — tak pernah sepenuhnya menetap.
Pembaruan tidak selalu berarti hal baik dalam tolok ukur ego. Kadang ia datang melalui perjumpaan yang manis, kadang hinggap sebagai tragedi. Pada saat bersamaan, saya tidak bisa mengatakan bahwa ini menyenangkan. Bagaimana bisa, ketika kita terjebak antara keinginan “aku ingin mencobanya sekali lagi” dan keluhan “aku berharap tidak pernah dilahirkan”? Di mana letak kenikmatannya?
Sekonyol-konyolnya, tetaplah menjadi manusia yang ada: tetap meragukan segala sesuatu, berpikir, menyadari, dan sekurang-kurangnya bisa mengumpat, “Sialan! Aku sudah terlanjur ada!”
Dari sini, saya lebih memilih untuk percaya pada satu gagasan sederhana: “Ambillah keputusan, dan buatlah keputusan itu menjadi baik untukmu.” Alih-alih menunggu kesempatan yang sempurna — yang mungkin tidak akan pernah datang. Karena, bagi saya pribadi, satu-satunya kepastian mutlak adalah kematian. Dan saya pun tidak tahu kapan ia akan datang.
Perlu diingat, bahwa argumen ini hanyalah satu dari sekian banyak pilihan yang tersedia. Salah satu buah dari kehendak bebas yang saya miliki. Bertolak dari keyakinan saya bahwa hidup tidak membawa makna yang melekat, kitalah — para sapiens kecil ini — yang meletakkan makna ke dalam hidup.
Bagi siapapun engkau, yang pernah menyadari dan mengutuk, “Keparat! Aku terlanjur ada!” — namun tetap enggan membusuk sia-sia — selamat datang, sobat.
Setidaknya, setelah itu, engkau akan benar-benar bisa menikmati perjalanan ini.

Bekerja untuk Keabadian Orbiz, anaknya Ngulik Enak, Cucunya Kopitasi, dan semua keturunannya kelak.

Leave a Reply