Socrates Dihukum Mati

Socrates dihukum mati

Bayangin kamu lagi nongkrong di taman kota, terus ada bapak tua nyamperin sambil nanya, “Kamu yakin hidupmu udah bener?”
Kamu senyum sopan, tapi dia malah lanjut: “Atau kamu cuma nurut aja sama apa yang diajarin, tanpa pernah mikir ulang?”
Nah, selamat datang di dunia Socrates—filsuf nyentrik yang bikin orang merasa insecure hanya dengan pertanyaan.

Si Bapak Tua Nyebelin yang Bikin Orang Gelisah

Socrates bukan tipe orang yang kasih kamu quotes motivasi ala Instagram. Dia nggak bakal bilang, “Percaya aja, semua akan baik-baik saja.”
Sebaliknya, dia akan tanya balik, “Kenapa kamu percaya semua akan baik-baik saja? Bukti logisnya apa?”

Di Athena—kota yang bangga akan demokrasi, seni, dan debat—Socrates justru jadi duri dalam daging. Dia jalan-jalan, ngobrol sama siapa aja (terutama anak-anak muda), dan pelan-pelan membuat mereka meragukan segalanya: dari sistem kepercayaan sampai otoritas politik.

Bagi warga yang lagi sensi (Athena waktu itu baru kalah perang, ekonominya ambyar, dan politiknya kacau), kehadiran Socrates terasa seperti… tukang korek luka lama.

Dituduh Merusak Moral dan Menghina Dewa

Akhirnya, dia dituduh dua hal serius:

  1. Merusak moral anak muda – karena anak-anak jadi doyan mikir dan ngegas orang tua.
  2. Tidak mengakui dewa-dewa resmi Athena – karena dia percaya ada “suara dalam hati” (daimonion) yang membimbingnya, bukan Zeus cs.

Kalau hari ini Socrates muncul di sekolah atau kampus, mungkin dia kayak dosen tamu yang nggak bawa slide, tapi malah bikin mahasiswa mempertanyakan eksistensi nilai-nilai akademik itu sendiri. Edukatif? Banget. Tapi juga bikin panik.

Proses Pengadilan: Bukan Pembelaan, Tapi Tamparan Balik

Waktu dia diadili, Socrates nggak bela diri kayak terdakwa biasa. Dia malah bilang:

“Aku ini seperti lalat kecil yang bikin kuda besar (Athena) tetap terbangun.”

Artinya? Dia merasa tugasnya adalah menggugah kesadaran publik, meskipun caranya mengganggu.
Tapi kalimat itu, di pengadilan, kedengeran kayak:
“Gue emang ganggu, tapi lo semua kudu diganggu!”

Juri pun memutuskan: hukuman mati. Dengan cara minum racun (hemlock). Dan yang bikin tambah dramatis? Socrates nerima hukuman itu dengan tenang, bahkan sambil ngobrol soal filsafat di detik-detik terakhir hidupnya.

Kenapa Orang yang Banyak Mikir Justru Dibunuh?

Jawabannya sederhana dan menyedihkan: karena berpikir itu mengganggu status quo.

Socrates bukan ancaman fisik. Tapi dia bikin orang berpikir ulang tentang semua yang selama ini mereka anggap suci dan benar. Dan buat masyarakat yang sedang rapuh, pertanyaan bisa terasa lebih bahaya daripada senjata.

Analogi kasarnya: bayangin kamu hidup di kota yang seluruh penduduknya percaya bumi itu datar, lalu kamu datang bawa globe. Bisa-bisa kamu diarak keliling kampung.

Warisan Seorang Lalat

Ironisnya, setelah dia mati, justru nama dan idenya menyebar makin luas. Muridnya, Plato, mencatat semua ajarannya. Dari Plato, muncul Aristoteles. Dari mereka, muncul fondasi filsafat Barat, ilmu pengetahuan, bahkan demokrasi modern.

Jadi, Socrates memang mati… tapi pikirannya hidup dan terus menggelitik generasi demi generasi.


Kesimpulan: Socrates Mati Karena Dunia Belum Siap

Kalau kamu pengen jawab cepatnya:
Socrates dihukum mati karena terlalu banyak mikir dan ngajak orang lain mikir.

Tapi kalau kamu mau jawab panjangnya:
Dia mati karena keberanian bertanya di dunia yang lebih suka tenang dalam kepalsuan daripada terusik oleh kebenaran.

Dan sampai hari ini, kita masih sering lihat itu terjadi, bukan?

Tagar terkait :


Popular Posts

One response to “Socrates Dihukum Mati”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *